Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2016

Perampingan Staff SKPD provinsi jawa timur

Pemerin­tah  provinsi  (Pemprov) Jawa   Timur   memutasi sejumlah   pejabat   baik eselon   II,   III   dan   IV. Mutasi ini berlangsung di gedung  negara  Grahadi kemarin (1/4). Pejabat  Eselon  II  yang dimutasi adalah Lies Ida­wati   yang   sebelumnya bertugas  di  Biro  Sumber Daya  Alam.  Ia  dimutasi menjadi   kepala   Badan Pemberdayaan   Perem­puan dan Keluarga Beren­cana   (BPP KB)   Jatim. Lalu  yang  kedua  adalah Sri  Widayati  yang  sebe­lumnya  menjabat  wakil direktur penunjang medik di  RSUD  dr  Soetomo  di­ pindah menjadi wakil di­rektur   di   RSU   Saiful Anwar Malang.
“Karena  posisi  sebagai kepala  Badan  Pember­dayaan Perempuan adalah posisi   strategis,   maka tidak boleh dibiarkan ko­song. Yang tepat mengisi adalah  seorang  wanita,” kata Asisten IV Pemprov Jatim Mujib Affan.
Selain   dua   pegawai eselon II, terdapat juga 65 pegawai eselon III dan 100 orang  eselon  IV  yang  di­ mutasi kemarin. Menurut Affan, terdapat beberapa penilaian  yang  membuat pegawai  eselon  atau  staf di angkat. Di antaranya se­perti kompetisi, pelayanan, integritas,  dan  loyalitas terhadap institusi. “
Ada yang namanya ki­nerja  pegawai  dan  ada yang namanya sistem ki­nerja pegawai. Kalau je­lek, tidak mungkin kami promosikan.    Seratus orang eselon IV itu berasal dari   staf   sebelumnya,” tambahnya.
Disinggung  soal  hanya dua  pejabat  eselon  yang dimutasi, Affan mengata­kan  karena  hal  ini  ber­sangkutan  dengan  akan di rampingkannya  sejum­lah   Satuan   Kerja   Pe­ rangkat Daerah (SKPD). Seperti  diketahui  dari sebelas SKPD yang ada di pemprov akan diramping­kan   menjadi   sembilan SKPD.  Sehingga,  hanya terdapat dua SKPD yang kosong   dan   diisi   jaba­ tannya. Sementara SKPD lain  seperti  kepala  Biro Humas   dan   Protokoler Setdaprov Jatim masih be­lum  diisi  karena  renca­nanya akan disatukan de­ngan Biro Protokol.
Sebelumnya, dari sebe­las biro di lingkungan se­kretariat  akan  diciutkan menjadi  sembilan  biro. Hal ini karena Biro Kese­hatan  Masyarakat  akan bergabung  dengan  Biro Kesejahteraan   Rakyat. http://sehat.link/rumah-sakit-terbaik-di-jakarta.info
Lalu,  Biro  Administrasi Pemerintah   bergabung dengan Biro Kerjasama. Sejumlah   asisten   di sekdaprov  yang  awalnya empat   juga   disederha­ nakan  menjadi  menjadi tiga. Di antaranya adalah Asisten   Bidang   Peme­rintahan dan Administrasi Umum, Asisten Kesra dan Asisten Ekonomi Pemba­ngunan. Sedangkan untuk staf  ahli  dari  lima  orang digabung  menjadi  tiga. Yakni staf ahli pemerintah dan politik, staf ahli kesra dan  pembangunan,  serta staf   ahli   ekonomi   dan infrastruktur.

sumber: radar surabaya

Kamis, 03 Maret 2016

Stasiun Semut Surabaya


stasiun semut. (sumber : wikipedia)
SURABAYA -Stasiun dengan nama asli Stasiun Surabaya ini sudah menjadi pusat transportasi darat di Surabaya sejak zaman kolonial Belanda. Dibangun oleh pemerintah kolonial tahun 1870, stasiun ini awalnya bertujuan untuk sarana mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pelosok di Jawa Timur. Hasil bumi yang datang ke Stasiun Semut, langsung dibawa ke Pelabuhan Tanjung Perak untuk kemudian di kirim ke Belanda.
Hal tersebut berlangsung selama 30 tahun. Hingga pada awal 1900-an, jumlah pengguna kereta penumpang terus meningkat. Akhirnya, pada 11 November 1911, bangunan Stasiun Semut diperluas hingga ke bentuknya yang sekarang ini. Sejak saat itu, stasiun semut menjadi denyut dan pusat utama transportasi darat di Surabaya. Beragam kereta dari berbagai kota besar di pulau Jawa menjadikan Stasiun Semut sebagai tujuan utama. Stasiun Semut menjelma menjadi salah satu ikon Surabaya. “Dulu ada kereta Eendaagsche Express. Kereta ini beroperasi diawal tahun 1930-an. Eendaagsche Express ini hanya membutuhkan waktu 11 jam untuk menuju Jakarta. Saat itu, Stasiun Semut memang menjadi stasiun utama di Surabaya, bahkan Jawa Timur,” ujar manajer humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional 8 Surabaya, Suprapto(19/2).
Namun, sejak adanya Stasiun Gubeng dan Stasiun Pasar Turi pada perten- gahan 1990-an, nasib Stasiun Semut berubah. Kini, Stasiun Semut hanya menjadi langsiran Kereta Api (KA) jarak menengah serta KA ekonomi jarak Dekat. Rute ke berbagai kota besar di Jawapun dialihkan ke Stasiun Gubeng dan Pasar Turi. “Saat ini yang melintas dan singgah di Stasiun Semut adalah KA Probowangi, KA Rapih Dhoho, KA Penataran, KRD Kertosono, KA Delta Ekspres, dan KA Arjuna Ekspres,” lanjut Suprapto. Tak hanya itu, sejak awal 1990-an pula, aksi vandalisme yang mulai marak juga menyasar Stasiun Se- mut. Bangunan dengan arsitektur kuno Eropa khas Belanda itu mulai dipenuhi goresan cat disanasini. Kondisi bangunan yang semakin menua juga memperparah keadaan Stasiun tertua di Surabaya ini. Miris, mengingat Stasiun Semut telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya Surabaya pada 26 September 1996.
Untuk itu, Suprapto mengatakan, pihaknya kini sedang merevitalisasi bangunan di Stasiun Semut. Dengan revitalisasi sejak tahun 2012 itu, KAI menginginkan agar bangunan di Stasiun Semut dikembalikan sesuai dengan bentuk aslinya. “Kami tak akan merubah bentuk maupun arsitektur yang ada. Kami ingin membuat bangunan di Stasiun Semut menjadi indah kembali, sesuai dengan bentuk aslinya,” terangnya. Suprapto berujar, saat ini pengerjaan sudah masuk tahap finishing. Jadi, ia berharap, dalam waktu dekat bangunan ini bisa kembali memukau mata. “Sekarang kami masih menunggu hasil uji dari pihak Surabaya Heritage dan pemerhati sejarah lainnya di Surabaya untuk meyakinkan bahwa bangunan yang direvitalisasi ini sudah sesuai dengan bentuk otentiknya,” beber pria asli Bandung ini.
Suprapto menuturkan, perbaikan ini menunjukan jika PT KAI serius menjaga cagar budaya yang ada. Nantinya, jika semua proses telah selesai, ia berharap agar Stasiun Semut bisa populer lagi. Salah satu caranya adalah dengan menjadikan Stasiun Semut sebagai situs wisata sejarah di Surabaya. “Namun itu masih rencana. Kami masih harus mengkoordinasikan nya dengan pihak PT KAI Pusat untuk kelanjutan bangunan Stasiun Se- mut ini. Namun yang jelas, kami yakin Stasiun Semut akan kembali dikenal,” tutup Suprapto.
sumber: radar surabaya